A.   Pengertian Al qur’an:a)      Secara bahasa (etimologi):·         Berasal dari kata  ” قرأ ” yang bermakna “Membaca”.

·         Berasal dari kata  ” القرء ” yang barmakna ” Mengumpulkan”.

Dalil: QS. 75:17-18

·         Berasal dari kata  ”     ” yang barmakna  “Menggabungkan sesuatu kepada yang lain “.

b)      Secara ishtilah (terminologi):

Al Qur’an adalah Firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah, lafaznya adalah mu’jizt, membacanya adalah ibadah, tertulis di dalam mushaf dan dinukilkan secara mutawatir.

B.    Keutamaan Al qur’an:

a)      Mendengarnya:

1.      Sebab maraih Rahmat Allah.

Dalil :QS. 7:24

Jadi kalau kita mau mendapatkan rahmat, dengarkan Al Qur’a dibaca. Termasuk dalam tarbiyah, kita kondisikan mutarabbi kita untuk mendengarkan Al Qur’an ketika ada temannya yang sedang membaca Al Qur’an.dalam tarbiyah, kita tidak hanya mengajarkan ilmu tetapi juga harus mengajarkan para mutarabbiyah kita untuk mengamalkan ilmunya. Misalnya pada poin ini (poin salah satu fadilah Al Qur’an ketika kita mendengarkannya). Ketika ada temannya tarbiyah yang sedang baca Al Qur’an maka yang lain tidak sibuk cerita tetapi hendaknya ia mendengarkan dengan baik. Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan rahmat dengan bacaan itu.

Murabbiyah hendaknya menegur mutarabbinya ketika dalam tarbiyah terjadi kasus yang semisal di atas

Jadi kita melatih diri kita ketika Al Qur’an dibacakan maka kita dengarkan dengan demikian “la’allakum turhamun”, mudah- mudahan kita mendapat rahmat dengan mendengarnya.

Di sini juga kita bisa bahas, namun ini agak sensitif, sebab banyak menjadi kontroversi sekarang, yakni orang-orang yang memutar kaset mengaji menjelang adzan, selama ini, jawaban kita itu adalah bid’ah dan tidak ada sunnahnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jawaban tersebut shahih bahwa ia adalah bid’ah dan tidak ada sunnahnya namun ini adalah tradisi masyarakat yang belum paham dengan islam. Maka ketika kita melakukan pendekatan untuk memberikan pemahaman yang benar maka kita bisa masuk dari segi/poin ini. Kita mengatakan sebenarnya dalam Al Qur’an Allah mengatakan “Idzaa quri’a Al Qur’anu fasta’in…” (apabila Al Qur’an dibacakan maka dengarkanlah). Secara umum kaum musimin mengetahui cara menghargai Al Qur’an. Coba kita perhatikan ketika mereka menghadiri acara-acara, dimana biasanya acara pertama yakni pembukaan yang di dalamnya terdapat pembacaan ayat suci Al Qur’an. Ketika dikatakan “pembacaan kalam ilahi”(meskipun itu tidak benar karena yang benar adalah kalamullah). Ketika qari’ telah membaca “A’udzubillahi minasysyaithanirrajim” maka semua hadiri menundukkan kepala, seolah khusyuk mendengarkan bacaan qari’. Ini menunjukkan bahwa orang awam tahu bahwa ketika dibacakan Al Qur’an, kita dudah seharusnya diam. Kalau kita lakukan pendekatan dari sisi ini bahwa sebenarnya kita diperintahkan untuk diam ketika dibacakan Al Qur’an sehingga kita bisa mendapat pahala dan rahmat”. Kalau kita ribut, bising, dan brisik maka kita bisa berdosa.

Jadi kita bisa antar ke sana, bagaimana kita putar kaset mengaji, sementara di luar ada yang cerita, bicara dan sibuk dengan urusan yang lain, berarti kita membuat orang itu jatuh ke dalam dosa. Mudah- mudahan dari penekanan itu mereka bisa kita masuki.

2.      Sebab seseorang meraih hidayah.

Dalil QS.17:9, 39:17-18, 72:1-2, 46:29-30.

3.      Sebab kekhusu’an hati dan mencucurkan air mata.

Hati menjadi khusyu’ dengan mendengarkan Al Qur’an, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta para sahabat untuk membaca Al Qur’an dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menyimak/mendengarkan sampai-sampai beliau mencucurkan air mata mendengar bacaan sahabat. Ini juga menunjukkan dianjurkannya kita mendengarkan bacaan Al Qur’an dari orang lain. Apalagi kalau bacaan itu enak didengar yang dibacakan oleh orang yang memiliki bacaan yang baik, maka ia akan memberikan pengaruh di dalam hati.

Dalil : QS.19: 58, 39:23, 17:107-109.

4.      Sebab bertambahnya iman.

Iman itu akan bertambah dengan banyak mendengarkan bacaan Al Qur’an.

Dalil QS.8:2, 9:124-125

Semua ini merupakan motivasi kepada binaan kita untuk banyak mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an.

b)     Mempelajari dan mengajarkanya:

Materi ini diharapkan memberikan motivasi agar binaan kita memiliki hubungan yang kuat dengan Al Qur’an.

1.      Seperti malaikat dan Rasul

Malaikat yang mengantarkan Al Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga seakan-akan kita melakukan suatu amalan sama dengan yang dilakukan oleh malaikat Jibril yang mengantarkan /mengajarkan Al Qur’an kepada manusia. Begitu pula dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita pahami bahwa salah satu tugas utama Beliau adalah membacakan dan mengajarkan Al qur’an (QS. 62 : 2), sehingga kalu kita mempelajari kemudian mengajarkan Al Qur’an, maka berarti kita mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an, maka ia telah mengambil amalannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalil : QS.53:5,26:192-194.

2.      Manusia yang paling baik.

Sebagaimana hadits yang sangat popular

“Sebaik-baik di antara kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an”

Atau dalam hadits riwayat Bukhari

“Yang paling mulia di antara kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an”

Makanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka kalau kita menyampaikan atau mengajarkan Al Qur’an kepada seseorang. Yang dimaksud “mengajarkan Al Qur’an” di sini bukan hanya sekedar membacanya, dari belajar Iqra’ sampai Al Qur’an, tapi lebih dari pada itu, bagaimana kita mengajarkan nilai-nilai Al Qur’an dalam kehidupan seseorang.

41:33.

3.      Lebih baik dari perbendaharaan dunia.

Kalau orang sekarang berlomba-lomba mencari dunia yang tidak akan pernah bisa diraihnya, sebab kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu dan tidak ada yang dapat memiliki dunia seluruhnya, maka kalau kita mau lebih baik dari itu, maka mari mempelajari Al Qur’an kemudian mengajarkannya. Inilah fungsinya kita belajar ilmu syar’I, dan belajar bukan hanya sekedar untuk kebutuhan diri sendiri, tapi kita belajar di samping untuk kebutuhan diri sendriri, juga untuk kebutuhan orang lain. Bukan hanya belajar lalu sibuk dengan diri kita saja, tetapi harus berusaha untuk mengajar orang lain, karena sesungguhnya tujuan kita belajar ada 2, yaitu :

ü  ….

ü  ….

Jadi kalau ada orang belajar hanya untuk konsumsi dirinya saja, maka dia akan ditanya oleh Allah tentang tujuan yang kedua. Sebaliknya, jika ada orang yang belajar hanya untuk mengajar orang lain kemudian untuk dirinya sendiri dia tidak amalkan, seperti lilin, menerangi sekelilingnya lalau membinasakan dirinya, maka dia pun akan ditanya oleh Allah.

Demikian pula dalam tarbiyah, bukan hanya sekedar kita ikut tarbiyah dan hadir dalam halaqah tarbiyah, lalu tidak ada kepedulian untuk mengajar/mentarbiah orang lain. Jadi kalau ada orang yang selama ini ikut tarbiyahsudah sampai kepada marhalah tanfidz, berarti dia akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di hari kemudian, karena salah satu tujuan dari menuntut ilmu tidak dia wujudkan. Dan ini yang kita tidak inginkan, dalam tingkatan tarbiyah/pembinaan kita, sampai kepada marhalah tanfidziyah itu bukan marhalah istirahat, tanfidziyah artinya mobilisasi. Sekian banyak kader-kader kita telah sampai kepada marhalah tanfidziyah tetapi ketika dilihat apa kontribusinya terhadap dakwah, terhadap tarbiyah, ternyata tidak ada. Biar satu halaqah pun tidak ada yang dipegang. Sistem pembinaan kita kuat, maka tidak ada orang yang kita masukkan ke dalam marhalah tanfidziyah kecuali jelas kontribusinya terhadap tarbiyah. Dan kalau ada yang sudah terlanjur masuk dan tidak ada tariyahnya maka kita kembalikan ke marhalah ta’rifiyah. Apa gunanya, kita masuk ke marhalah taqwiniyah, lanjut naik ke marhalah tanfidziyah, itu bukan kemuliaan, bahwa yang berada pada marhalah takwiniyah dan ta’rifiyah lebih rendah derajatnya dari yang berada pada marhalah tanfidziyah, bukan seperti itu, tetapi yang ada adalah tanggung jawab. Benar pada sisi yang lain ada kemuliaan tapi tanggung jawabny di sisi Allah adalag besar. Karena kita telah berada pada tataran, pada peringkat, pada marhalah yang mestinya diharapkan jelas kontribusinya dan kontribusi yang paling besar adalah menangani tarbiyah. Apa gunanya kita bangga menjadi orang Wahdah tapi tidak jelas apa kontribusi kita terhadap Wahdah, paling kalau ada pengumpulan dana kita ikut di dalamnya, kalau kontribusi kita baru pada batas ini, maka kita hanya simpatisan bukan kader. Kader jelas kontribusinya dan yang paling diimpikan adalah membina generasi. Maka ke depan, kita tidak mengharapkan ada salah seorang kader kita, apalagi ia sudah sampai pada marhalah tanfidziyahyang tidak menangani tarbiyah, paling tidak 1 halaqa, yang ia tarbiyah, yang insya Allah beberapa tahun ke depan ia juga bisa mentarbiyah orang lain di bawahnya. Kalaui ini semua kita pahami, maka insya Allah proses percepatan kader akan terwujud, tapi persoalannya banyak di antara kita ……. dai dan murabbi, sudah masuk pada marhalah tanfidziyah yang tidak menangani halaqah tarbiyah. Hanya mau naik pangkat tetapi tidk ada amalan. Maka mudah-mudahan ini bisa kita perbaiki ke depan, insya Allah.

Dalil: QS.4:59,  39:23

4.      Meraih pahala

…..

“siapa yang pagi-pagi ke mesjid dan tujuannya hanya untuk mempelajari satu kebaikan, maka pahalanya sama dengan orang yang melaksanakan haji secara sempurna”

c)      Membacanya:

Di sini kita memberikan motivasi kepada mutarabbi untuk betul-betul akrab dengan Al Qur’an dan menjadikan Al Qur’an sebagai bacaan utamanya, bukan koran. Sebagian dari kita, kalau pagi bacaan kita Koran sampai berjam-jam lamanya, tapi kalau Al Qur’an, mungkin berhari-hari lamanya baru kita kembali membukanya. Ini menjadi bahan evaluasi bagi kita, tidak ada yang seharusnya lebih kita percaya beritanya selain Al Qur’an, karena Al Qur’an itu datang dari Allah yang selalu harus kita kedepankan.

1.      Perdagangan yang menguntungkan.

Tidak ada orang yang mau rugi dalam perdagangan. Banyak saudara kita pebisnis/pedagang semuanya mau mendapatkan untung dalam dagangannya, tapi terkadang realitanya kita rugi. Membaca Al Qur’an adalah perdangan yang  tidak akan pernah mengalami kerugian.

Dalil: QS.35:29.

2.      Meraih pahala yang banyak.

Dengan membaca Al Qur’an maka kita akan mendapatkan pahala yang banyak, ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa membaca 1 huruf saja dari Al Qur’an ini maka ia mendapatkan 1 kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi 10, dan saya tidak mengatakan bahwa Alif lam mim itu 1 huruf, tetapi alif 1 huruf, lam 1 huruf, dan mim 1 huruf”. Jadi kalau satu buah Al Qur’an kita baca, di dalamnya ada berapa banyak huruf yang dikalikan dengan 10 kebaikan. Semakin banyak yang kit abaca, maka akan semakin banyak pula pahala yang kita akan dapatkan. Sedangkan membaca koran  tidak ada pahalanya.

Dali QS.10:61

3.      Turunnya ketenangan dan Rahmat

Salah satu resep untuk menenangkan jiwa dari problema dan masalah adalah kembali kepada Al Qur’an. Makanya do’a Rasulullah ketika sedang risau/gundah gulana

….

Dan perbanyaklah membaca Al Qur’an, sebab itu akan menenangkan jiwa.

Dalil : QS.73:20

4.      Hiasan bagi orang beriman

Dalil : QS. 2:121,  17:45,  29:45

5.      Membacanya adalah kebaikan seluruhnya.

Dalam tarbiyah ini, kita motivasi mutarabbi agar betul-betul lengket dan akrab dengan Al Qur’an.

Dalil QS.2:2,  11:17

6.      Pelindung dari syaithan

Orang yang kotor hatinya sangat mudah diganggu oleh syaithan, baik gangguan dalam bentuk psikis mapupun gangguan dalam bentuk fisik. Makanya orang-orang yang sering kesurupan itu karena tidak ada Al Qur’an dalam dirinya. Orang yang banayk membaca Al Qur’an, dekat dengan Al Qur’an, maka insya Allah, syaithan akan takut kepadanya.

d)     Menghafalnya:

1.      Tingginya derajat penghafal:

Bukti bahwa penghafal Al Qur’an derajatnya tinggi

Ø  Kedudukan penghafal pada ayat yang terakhir dia baca.

Artinya, kedudukan penghafal Al Qur’an di sisi Allah ada pada  ayat yang terakhir dia baca.

Ø  Penghafal dipakaikan mahkota kemuliaan.n memang seorang  hafidz  bukan orang sembarangan, mereka adalah orang-orang khusus.

Mahkota ini nanti akan dipakai di hari akhir. Mahkota itu dipakai oleh orang-orang khusus, d

Ø  Penghafal bersama dengan Malaikat yang mulia.

2.      Penghafal dikedepankan di dunia dan Akhirat:

Ø  Yang berhak jadi imam

Ini adalah bentuk kemuliaan seorang hafidz, bukan karena umur atua usianya dan bukan karena jabatannya

Ø  Yang berhak jadi pemimpin.

Dalam syari’at Islam, orang yang berhak jadi pemimpin adalah orang yang hafal Al Qur’an.

Ø  Dikedepnkan dalam musyawarah

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu jika memanggil orang-orang untuk bermusyawarah, maka yang diutamakan adalah para penghafal Al Qur’an, baik yang sudah tua maupun yang masih muda. Mereka dilibatkan dalam musyawarah.

Ø  Dikedepankan dalam penguburan

Misalya, ketika para sahabat gugur di perang uhud, maka yang lebih dahulu dikuburkan adalah para penghafal Al Qur’an. Inilah mulianya orang yang menghafal kalamullah.

3.      Keluarga Allah dan orang khususnya.

4.      Tidak dibakar oleh api neraka

Dari Uqbah bin Ali, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Sekiranya Al Qur’an itu ada pada kulit yang disamak, maka ia tidak akan disentuh oleh api neraka”.

5.      Tidak dimakan oleh tanah

(Belum didapatkan dalilnya)

e)      Mengamalkannya:

1.      Meraih petunjuk di dunia dan akhirat.

Dalil QS. 39:17-18.

2.      Tidak sesat dan sengsara.

Menurut Ibnu Abbas, orang yang menghafal Al Qur’an tidak sesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat. Sekarang banyak orang bingung, apalagi dengan banyaknya kelompok, paham, pendapat berkembang di masyarakat kita, tidak sedikit masyarakat kita yang bingung dengan banyaknya pendapat tersebut. Kalau kita belajar dan memahami Al Qur’an, maka kita tidak akan bingung, karena Al Qur’an menjadi Furqan (Pembeda), bisa membedakan mana Ada satu pengalaman dalam sebuah daurah yang dihadiri oleh seorang Syekh. Pesertanya umum, mereka adalah para du’at/sarjana-sarjana agama. Ketika Syekh menjelaskan tentang masalah aqidah, maka beliau membahas kemurnian aqidah Ahlussunnah wal jama’ah. Setelah itu, beliau menjelaskan tentang penyimpangan-penyimpangan kelompok lain seperti Syi’ah, Murji’ah, Khawarij. Mu’tazilah dsb. Setelah Syekh selesai menjelaskan, seorang sarjana Islam langsung mengkritisi Syekh yang benar dan mana yang salah.

dengan mengatakan, menurut saya, kelompok-kelompok yang disebutkan tadi seperti Syi’ah, Murji’ah, Khawarij. Mu’tazilah dsb, itu juga benar. Syekh langsung bertanya, apakah Anda hafal Al Qur’an 30 jus? Dia menjawab tidak, Anda hafal 20 jus? Tidak. 10 jus? Tidak. 5 jus? Tidak. 3 Jus? Tidak. Lalu bagaimana Anda bisa mengatakan mereka benar kalau Anda tidak paham Al Qur’an? Karena barometer kita menilai sesuatu benar atau salah adalah Al Qur’an. Banyak orang bingung, kelompok ini benar atau salah, kelompok itu benar atau salah? Sebenarnya kebingungan itu adalah karena mereka tidak paham Al Qur’an. Kalau kita paham Al Qur’an, jelas bagi kita ini yang benar dan ini yang salah. Karenanya Al Qur’an itu sebagai filter dalam kehidupan seseorang.

Dalil QS. 20:123.

3.      Mendapatkan rahmat di dunia dan akhirat

4.      Mendapatkan keuntungan di dunia Akhirat 7:157.

5.      Menghapuskan kesalahanan memperbaiki keadaan

Orang yang mengamalkan Al Qur’an, betul-betul dijaga oleh Allah, termasuk diperbaiki keadaannya.

Dalil QS. 47:2.

C.    Urgensi Al qur’an dalam kehidupan seorang muslim:

a)      Kedudukan Al qur’an dalam kehidupan kaum muslimin:

1.      Al qur’an adalah faktor terbesar dalam mepersatukan kaum Muslimin.

Kalau kita khawatir dengan perpecahan kaum muslimin, maka tidak akan mungkin terjadi persatuan, kecuali kaum muslimin kembali kepada Al Qur’an. Dunia Arab sebelum datangnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita lihat mereka berpecah belah, terjadi permusuhan antara satu suku dengan suku yang lain, dan tidak pernah kita lihat sejarah dunia Arab bersatu kecuali apabila mereka bersatu di atas Al Qur’an. Tetapi ketika mereka telah meninggalkan Al Qur’an, maka kita sekarang lihat dunia Arab bercerai berai. Termasuk juga secara umum kaum muslimin, tatkala mereka meninggalkan Al Qur’an, maka Allah memperlihatkan kepada mereka kebencian dan permusuhan antara yang satu dengan yang lain. Dan tidak akan bersatu, sebelum kembali kepada Al Qur’an.

Dalil QS. 3:103.

2.      Al qur’an adalah manhaj tarbiyah bagi kaum muslimin

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mentarbiyah sahabatnya di atas manhaj Al Qur’an, tidak banyak teori, Rasulullah tidak mengadopsi teori dan system nilai yang lain. Rasulullah hanya mentarbiyah para sahabatnya dengan Al Qur’an. Karenanya para sahabat bersih aqidahnya, bersih ibadahnya, bersih akhlaknya, besih pola pikirnya, bersih taqarrubnya, dst.

Dalil QS. 3:79,138,  54:17,22

3.      Al qur’an adalah manhaj hidup kaum muslimin

Bagaimana menjadikan Al Qur’an sebagai undang-undang dalam hidupnya.

Dalil QS.16:89.

4.      Al qur’an mengarahkan kepada sunnah yang tetap.

Dalil QS.35:43.

b)     Sasaran pokok Al qur’an dalam kehidupan kaum muslimin:

1.      Meraih dan mendapatkan hidayah yang mengantarkan kita kepada Allah.

Dalil QS. 5:15-16, 41:44, 17:9, 42:52.

2.      Membentuk masyarakat qur’any yang muta’awin.

Dalil QS.3:103, 5:2.

3.      Membentengi umat dari musuh-musuhnya.

Dalil QS. 25:52.

c)      Manhaj Al qur’an dalam memperbaiki kaum muslimin

Sebagai seorang da’i/murabbi, kita harus mengikuti manhaj Al Qur’an dalam menterapi/memperbaiki ummat.

1.      Berproses dalam syari’at

Pola dan manhaj yang dijalankan oleh Rasulullah dalam dakwahnya, itu mengacu kepada Al Qur’an. Makanya dikatakan “Kuunuu Rabbaniyyin”, termasuk Rabbaniyyin adalah yang mengajarkan Al Qur’an. Mengajarkan pokok dari yang umum kepada yang ushul, dari yang prinsip kepada yang furu’, dari yang kecil kepada yang besar. Bukan sebaliknya. Makanya kita di dalam memperbaiki ummat, harus ada skala prioritas, selalu mengikuti manhaj Al Qur’an, manhaj Rasulullah dalam memperbaiki keadaan. Misalnya, Al Qur’an dalam menterapi/memperbaiki ummat, pertama kali penanganan yang dilakukan adalah penanaman iman, pemantapan aqidah, sebelum syari’at yang lain. Allah menurunkan perintah puasa, perintah shalat, zakat, larangan zina, larangan khamr, dst, itu setelah iman kuat. Karena kalau tidak seperti itu, lalu diturunkan perintah tinggalkan khamr, maka tidak akan ada orang Arab yang mau meninggalkan khamr pada saat itu karena khamr bagi orang Arab adalah minuman rohani.

Oleh karena itu, untuk memperbaiki ummat ini, karena penyimpangan masih banyak, maka mari kita mulai dari yang prinsip/pokok, yaitu penanaman iman. Bagaimana menanamkan mahabbatullah, mahabbaturrasul, pengagungan kepada Allah, pengagungna kepada Rasul. Maka sebuah kekeliruan apabila seorang da’i/murabbi yang menjadi tema sentralnya adalah terus menerus membahas rokok, padahal pecandu rokok akan meninggalkan rokok dengan sendirinya ketika imannya kuat. Tanpa kita mengatakan rokok itu haram, maka ia akan ditinggalkan. Sama juga halnya dengan akhwat, selalu yang menjadi penekanan adalah masalah jilbab besar sementara iman tidak ditanamkan. Tanpa disampaikan pun, kalau imannya kuat maka mereka akan mengamalkannya. Sebaliknya kalau tidak ada iman, maka inilah yang biasa kita temukan dalam kehidupan kita sebuah kontradiksi. Kelihatan penampilannya masya Allah seperti malaikat, tetapi perilakunya na’udzubillahi min dzalik, dikeluhkan semua orang. Tidak menghargai yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil, padahal itu adalah perilaku islami.

Walaupun tidak boleh bersikap ghulu (berlebih- lebihan) dalam hal ini. Kita mengatakan “kan akhwatji”, tidak boleh seperti itu. Kita harus menempatkan posisi kita. Rasulullah menganggap bukan dari golongannya karena tidak menghargai yang besar dan tidak menyayangi yang kecil. Apalagi kalau kita punya posisi tertentu, terkadang kita kurang bisa menghargai orang yang lebh tua dari kita padahal kita harus menghargai orang lain meskipun mereka tidak memiliki posisi yang penting. Mengapa? Karena kita hanya sibuk memperbaiki yang dzhahir kemudian memperbaiki yang batin.

Bahkan ada satu kaidah yang disebutkan oleh ulama kita bahwa “memperbaiki lahir dan batin itu sangat dituntut dalam islam, tetapi memperbaiki batin kita jauh lebih dikedepankan dari pada memperbaiki dzhahir kita”. Apa gunanya celana sampai mendekati lutut (tinggal tiga jari mendekati lutut) tetapi perilaku kita terhadap sesama sangat buruk. Apa gunanya jenggot kita sudah sampai di dada tapi akhlak kita tidak bagus (ini bukan untuk melecehkan tapi ini diangkat sebagai contoh). Sama halnya dengan akhaawat, kita sibuk memperbaiki penampilan kita, jilbab kita seperti malaikat tetapi muamalah kita kepada sesama manusia tidak baik, kita iri, kita dengki, kita arogan kepada orang lain, maka hendaknya kita memperhatikan kaidah yang disebutkan oleh ulama kita “memperbaiki batin jauh lebh priortas dari memperbaiki lahi/ dzhahir”. Makanya manhaj Al Qur’an itu adalah memperbaiki batin dulu sebelum memperbaiki

Dalil QS.17:106,  2:106

2.      Menanamkan rasa puas.

Dalil QS.58:22

Islam ini mengajarkan untuk memperbaiki kaum muslimin yakni dengan menanamkan kesadaran. Jadi bukan karena terpaksa, bukan karena peraturan. Ada ulama kita yang mengatakan “ aturan- aturan itu tidak mentarbiyah”, makanya aturan aturan itu turun di Madinah. Pada periode mekkah yang ditumbuhkan adalah kesadaran, sehingga orang- orang mengamalkan islam ini betul- betul karena kesadaran bukan karena paksaan, bukan karena pengaruh kondisi, tetapi betul- betul karena kesadaran bahwa inilah kebenaran, lalu mereka kerjakan.

3.      Mengulang-ulangi.

QS.6:105,  18:54

Oleh karenanya ketika kita perhatikan dalam Al Qur’an, kalimat “Yaa ayyuhalladziina aamanuu…” selalu diulang-ulang. Juga misalnya satu masalah seperti “aqimishshalah” dibahas di awal surah Al baqarah, di pertengahan, dan di akhir surah, kemudian diulang lagi pada surah Ali Imran. Makanya dalam tarbiyah, jangan merasa bosan untuk teru mengulangi arahan- arahan. Dan kita juga sebagi yang tertarbiyah jangan selalu merasa bosan itu terus, karena pengulangan itu penting.

4.      Mengarahkan garizah (semangat).

Dalil QS.91:8-10.

Menumpahkan semangat dari kecemburuan terhadap islam, misalnya seperti apa yang disebutkan oleh Allah dalam Al Qur’an

“ yaa ayyuhannabiy harridil mu’miniina ‘alal qital” yang artinya “ hai nabi, tumpahkanlah atau pecahkanlah kaum muslimin untuk berperang di jalan Allah.

Al Qur’an yang menanamkan /memompakan semangat kaum muslimn untuk berperang tetapi semangat mereka terarah, semangat yang terkendali dan terhitung bukan semangat yang membabi buta.

5.      Seimbang.

Dalil QS. 4:134, 28:77, 2:200-202.

Seimbang antara ruhiyah, pikiran, dan jasadiyah. Semuanya seimbang.

6.      Mengkaji sejarah untuk pelajaran.

Dalil QS 12:111, 7:176.

Makanya Al Qur’an ini banyak memuat kisah, padahal ia bukan buku sejarah atau buku kisah tetapi Al Qur’a banyak memuat kisah dan sejarah untuk menjadi pelajaran. Begitu pula dalam tarbiyah, kita harus sering-sering mengangkatsejarah untuk mengambil pelajaran.

d)     Pengaruh Al qur’an dalam kehidupan ummat:

1.      Mengeluarkan dari syirik ke tauhid.

Dalil QS.38:5.

Kalau kita mau menyelesaikan akar permasalahan dari persoalan kesyirikan ummat ini, maka mari kita dekatkan ummat ini pada Al Qur’an, sehingga insyaAllah ummat ini akan meninggalkan kesyirikan.

2.      Dari kegelapan kepada cahaya,

Dalil QS. 2:256=257.

3.      Dari permusuhan kepada kecintaan,

Dalil QS. 3:103.

Ummat ini tidak akan mungkin akan saling mencintai kecuali kalau mereka kembali kepada Al Qur’an. Ketika selamanya mereka meninggalkan Al Qur’an maka ummat ini akan terus berada dalam permusuhan.

4.      Dari kehinaan kepada kemuliaan,

Dalil QS. 63:8.

Seperti yang disebutkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“ kemuliaan ummat ini bisa diraih ketika ummat ini kembali kepada Al Qur’an”

D.    Kewajiban terhadap Alqur’an

a)      Beriman kepadanya:

Dalil QS.4:136,2:4,285, 136.

Kita beriman kepada Al Qur’an bahwa :

1.      Al qur’an adalah kalamullah.9:6.

2.      Al qur’an terpelihara. 15:9. ( tidak ada kesalahan di dalamnya dan itu terus terjaga oleh Allah)

b)     Menjaga dan memperhatikannya:

1.      Di dalam dada.

Dalil QS.29:49

Kita pelihara dalam hati kita dengan cara menghafalkannya. Makanya dalam tarbiyah, ada program menghafal Al Qur’an. Sebuah dilematis, terkadang peserta tarbiyah ketika sudah masuk pada program hafalan, mereka sudah malas datang tarbiyah. Mengapa? Karena memang lemahnya kita untuk memotivasi diri terhadap Al Qur’an, sehingga karena seringnya tidak menyetor hafalan (2 atau 3 kali) akhirnya minta untuk tidak tarbiyah.

2.      Dalam bentuk tulisan

Dalil QS.6:7

Haknya Al Qur’an yakni dijaga dan ini adalah bagian dari tanggung jawab kita terhadap Al Qur’an. Jadi, hendaknya kita tidak meletakkan Al Qur’an di sembarang tempat.

3.      Tidak berlebih-lebihan dan tidak memudah-mudahkan.

Orang yang ekstrim, misalnya mencium Al Qur’an, bersifat ghulu terhadap Al Qur’an, Al Qur’an digantung dan dijadikan sebagai ajimat, kemudian ada yang bersifat meremehkan Al Qur’an.

4.      Tidak berbuat bid’ah.

Dalil QS.28:50

Karena Al Qur’an itu telah sempurna

5.      Tidak melecehkan dan mengolok-olokkan.

Dalil QS.9:65-66.

Karena hal tersebut bisa membuat kita takut

c)      Membacanya.

Dalil QS. 18:28, 73:2, 2:121.

Dalam tarbiyah, ketka kita mentarbiyah kemudian ada dawa’id/ dalil-dalil dari materi yang kita bahas, sebaiknya kita suru mutarabbi untuk membuka dan membaca Al Qur’an sebab ini adalah alah satu bentuk tarbiyah kita, bagaimana membiasakan mutarabbi akrab dengan Al Qur’an. Dan inilah yang kita inginkan, jangan terlalu banyak teori lalu Al Qur’an tidak kita berikan perhatian yang cukup. Jadi kita harus kembali kepada Al Qur’an dengan memperbanyak membacanya.

d)     Mempelajari dan mengajarkanya

Yang kita tekankan pada mutarabbiyah bahwasanya dekat dengan Al Qur’an dan mempelajari Al Qur’an bukan hanya sekedar membacanya dengan ilmu tajwid tetapi bagaimana kita memahami maknanya, bagaimana menjaganya dan bagaimana mengajarkannya.

e)      Mentadabur ayat-ayatnya.

Dalil QS. 48:24, 2:242.

Karena tiak mungkin kita amalkan kecuali ketika kita telah mengetahuinya. Al Ilmu qabla qaulu wal ‘amal.

f)       Mengamalkannya.

Dalil QS. 6:155, 62:5.

g)      Beradab dengannya:

1.      Adab hati:

Ø  Mengenal sumber Al qur’an.

Bahwa ini adalah firman Allah supaya kita lebih … dengan Al Qur’an. Misalnya ketika kita membaca Al Qur’an, kita sadar bahwa apa yang kita baca adalah kalamullah bukan kalam…., bukan ucapan tokoh, buka pendapat ulama, tetapi ia adalah kalamullah, firman Allah, yang dengan membacanya kita bisa mulia.

Ø  Mengagungkan kedudukannya

Karena ini adalah bagian dari ketakwaan

Ø  Menghadirkan hati tatkala membacanya.

Ini penting agar bacaan Al Qur’an lebih menyentuh hati kita.

Ø  Hati harus berinteraksi dengannya.

Ø  Merasakan bahwa kita yang diseru

Artinya ketika kita menbaca Al Qur’an (kita sendiri rasakan kemudian disampaikan kepada mutarabbiyah) seakan akan kita diajak bicara oleh Allah.

2.      Adab zhahir:

Ø  Suci

Suci dari hadats kecil, para ulama sepakat tentang hadats besar bahwa tidak boleh membaca Al Qur’an kecuali dalam kondisi darurat. Yang dimaksud tahara di sini adalah berwudhu, jadi usahakanlah berwudhu sebelum membaca Al Qur’an

Ø  Bersih tempat

Ø  Berhias.(memperindah diri termasuk pakaian)

Jangan membaca Al Qur’an buka baju sehingga yang tinggal hanya baju dalam saja atau baju tidur yang dipake membaca Al Qur’an. Ini adalah adab yang kurang bagus terhadap Al Qur’an. Demikian pula akhawaat, hendaknya berusaha memakai jilbab ketika membaca Al Qur’an, jangan pakaian yang pendek yang biasa dipakai bersama suami juga yang dipakai membaca Al Qur’an. Dan ini adalah bagian dari adab terhadap Al Qur’an. Imam Malik ketika membaca Al Qur’an, beliau memakai pakaian khusus. Ini bukan teori manusia yang kita baca, bukan buku manusia, tetapi ini adalah kalamullah, maka diperlukan adab terhadapnya.

Ø  Membersihkan mulut.

Yang paling efektif adalah memakai siwak.hal ini adalah sunnah yakni bersiwak kemudian membaca Al Qur’an.

Ø  Dll.

h)     Berda’wah kepadanya.

Dalil QS.16:44, 6:1, 12:108.

Kita mendakwahkan Al Qur’an dan ikut dalam mendakwahkan Al Qur’an adalah membela kehormatan Al Qur’an. Oleh sebab itu kalau ada orang yang hanya asyik belajar, asyik tarbiyah tapi tidak mau berdakwah, tidak mau mentarbiyah maka ia akan ditanya oleh Allah sebab tidak mau mendakwahkan Al Qur’an.

Dengan mewujudkan kewajiban kita terhadap Al Qur’an maka InsyaAllah kita terhindar dari sebuah fenomena yang dikeluhkan oleh Rasulullah dalam Al Qur’an yakni meningggalkan/ mengabaikan Al Qur’an. Rasulullah mengeluhkan/ mengadukan hal itu kepada Allah dan Rasulullah berkata “kaumku telah menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang ditinggalkan dan diabaikan”.

E.     Mengabaikan Al qur’an:

Menurut Ibnu Qayyim ada beberapa tingkatan dalam mengabaikan Al qur’an:

a)      Tidak membaca dan mendengarkannya

b)     Tidak mentadabbur dan mengkajinya.

Mungkin kita membaca Al Qur’an tetapi tidak mengkaji maknanya, maka ia masih masuk dalam kategori mengabaikan Al Qur’an

c)      Tidak mengamalkannya.

Membaca Al Qur’an, paham al Qur’an, paham maknanya, paham tafsirnya, tetapi tidak mengamalkannya, masih tetap masuk ke dalam kategori mengabaikan Al Qur’an.

d)     Tidak berhukum dengannya.

Membaca Al qur’an, memahami Al Qur’an, mengamalkan Al Qur’an dalam beberapa aspek, tetapi tidak berhukum dengan Al Qur’an, maka masih masuk dalam kategori mengabaikan Al Qur’an.

e)      Tidak berobat dengannya dan menjadikan sebagai penawar

Dijelaskan oleh Ibnu Qayyim bahwa hal ini artinya hati manusia itun berpenyakit. Sakitnya hati itu banyak macamnya tetapi intinya terdapat pada dua hal yaitu syahwat dan syubhat. Dan dua ini sebagaimana kata Ibnu Qayyim tidak akan bisa diterapi, tidak akan bisa diobati kecuali dengan Al Qur’an, sehingga ketika ada orang yang terkena penyakit syahwat ataupun penyakit syubhat dengan segala macamnya maka Al Qur’an adalah terapinya.

f)       Tidak mendakwahkannya.

Tidak mendakwahkan Al Qur’an kepada orang lain

Oleh: Ust. Jahada Mangka, Lc

MARAJI’:

1.      Azhamatul qur’an/ Mahmud Ad dausary.

2.      At tibyan fi adab hamalatil qur’an/ Annawawy.