I. Definisi Sahabat
Secara bahasa: Shahabi merupakan pecahan dari kata as-Shuhbah, yang berarti Mu’asyarah (pergaulan atau persahabatan). Disebutkan dalam kitab “Lisanul Arab”: kata Shaahabahu bermakna ‘asyarahu, (yakni, menemaninya dan bersamanya).Dan di dalam kamus al-Mishbah al-Munir karya al-Fayumi, disebutkan: Kata as-Shuhbah diarahkan pada orang yang sempat melihat dan duduk (bersama sahabatnya).

Sedangkan secara istilah, shahabi adalah: “Orang yang pernah berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam”. Maka termasuk dalam kategori ini semua mukmin yang pernah berjumpa dengan Rasulullah saw. baik dalam waktu lama maupun singkat, meriwayatkan (hadits) dari beliau maupun tidak, turut berperang beserta beliau maupun tidak, dan orang yang tidak melihat beliau disebabkan sesuatu hal seperti buta…”. (Ibnu Hajar dalam kitabnya: al-Ishabah I/6-8)

Cara mengetahui status seseorang sebagai sahabat adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Baits al-Hatsits hal. 185, “Status sahabat dapat diketahui melalui (berita) mutawatir, atau berita yang mustafîdhah (banyak namun di bawah derajat mutawatir), atau dengan kesaksian sahabat yang lain, atau bisa juga dengan meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, baik secara sama’ (mendengar) ataupun menyaksikan, selama berada satu zaman (dengan Nabi).”

II. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Terhadap Sahabat

Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah keselamatan hati mereka dan lidah mereka terhadap sahabat Rasulullah. Keselamatan hati dari kebencian, kemarahan dan iri hati dan keselamatan lidah mereka dari segala ucapan yang tidak layak dengan kedudukan mereka.

Hati Ahlus Sunnah wal Jamaah bersih dari semua itu, ia penuh dengan kecintaan, penghormatan, penghargaan kepada sahabat Nabi sesuai dengan kedudukan mereka. Ahlus Sunnah mencintai sahabat Nabi dan mengunggulkannya di atas seluruh manusia karena mencintai mereka termasuk mencintai Rasulullah dan mencintai Rasulullah termasuk mencintai Allah.

Lidah mereka bersih dari hinaan, celaan, laknat, pemberian gelar fasik, kafir dan lain-lain yang dilontarkan oleh ahli bid’ah , mereka adalah Udul ( Udul jama’ dari Adil . ( Menurut bahasa Adl yaitu : “Adalah” atau ‘Adl lawan dari Jaur yang artinya kejahatan. Rojulun ‘Adl maksudnya : Seseorang dikatakan adil yakni seseorang itu diridhai dan diberi kesaksiannya. (Lihat Kamus Muktarus- Shihah hal. 417 cet. Darul Fikr). Menurut Istilah ahli : Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Yang dimaksud dengan adil ialah orang yang mempunyai sifat ketaqwaan dan muru’ah”. ( Nuzhatun Nazhar Syarah Nukhbatul-Fikar hal. 29 cet. Maktabat Thayibah tahun 1404H).

Jika hati mereka bersih dari semua itu berarti mereka sarat dengan pujian, doa ridha dan rahmat kepada mereka serta istighfar dan lain-lain.

Hal itu karena perkara-perkara berikut:

Pertama : Mereka adalah generasi terbaik di seluruh umat sebagaimana secara jelas dinyatakan oleh Rasulullah, “Sebaik-baik manusia adalah abadku kemudian orangorang sesudah mereka kemudian orangorang sesudah mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kedua : Mereka adalah perantara antara Rasulullah dengan umat, dari merekalah umat menerima syariat.

Ketiga : Jasa penaklukan yang besar lagi luas melalui tangan mereka. Dengan wasilah mereka lah negeri-negeri dapat merasakan hidayah iman dan islam.

Keempat : Mereka menebarkan kemuliaan di kalangan umat, Kejujuran, nasihat, akhlak dan adab yang tidak ada di selainnya. Hal ini tidak diketahui oleh orang yang membaca tentang mereka dari balik tembok, bahkan hal ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang hidup dalam sejarah mereka dan mengenal keutamaan-keutamaan, jasa-jasa, pengorbanan-pengorbanan dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

III. Di antara Dalil-dalil yang Menetapkan Keutamaan Sahabat

Firman Allah Taala, “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaanNya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-  Hasyr: 8). Ayat ini tentang orang-orang Muhajirin.

Firman Allah Taala, “Dan orangorang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum ( kedatangan ) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr: 9). Ayat ini tentang orang-orang Anshar.

Nabi saw bersabda, “Jangan mencela sahabatku, demi dzat yang jiwaku berada di tanganmNya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas seperti gunung Uhud maka ia tetap tidak menandingi satu mud bahkan setengahnya yang diinfakkan oleh salah seorang dari mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah berbicara kepada Khalid bin al-Walid ketika terjadi peselisihan antara dirinya dengan Abdur Rahman bin Auf tentang Bani Judzaimah, maka Nabi bersabda kepada Khalid, “Jangan mencela sahabatku.” Dan yang harus diperhatikan adalah keumuman lafazh.

Tanpa ragu Abdur Rahman bin Auf dan orang-orang yang seangkatan dengannya lebih afdhal daripada Khalid bin al-Walid dari segi masuk Islam yang lebih dahulu daripada dia oleh karena itu Nabi bersabda, “Jangan mencela sahabatku.” Sabdanya ini tertuju kepada Khalid dan orang-orang sepertinya.

Apabila ada seseorang berinfak emas seperti Uhud, maka nilainya tidak menandingi satu mud atau setengahnya yang diinfakkan oleh sahabat, padahal infaknya sama, pemberinya sama dan yang diberi sama, sama-sama manusia akan tetapi manusia tidaklah sama, para sahabat itu memiliki keutamaan, kelebihan, keikhlasan dan ketaatan yang tidak dimiliki oleh selain mereka, keikhlasan mereka besar, ketaatan mereka kuat, maka mereka mengungguli siapa pun dari selain mereka dalam perkara infak.

Larangan dalam hadits di atas menunjukkan pengharaman. Tidak halal bagi siapa pun mencela sahabat secara umum tidak pula mencela satu dari mereka secara khusus. Jika ada yang mencela mereka secara umum maka dia kafir bahkan tidak ada keraguan pada kekufuran orang yang meragukan kekufurannya. Jika ada yang mencela secara khusus maka pendorongnya diteliti terlebih dahulu karena bisa jadi dia mencela karena alasan bentuk tubuh atau prilaku akhlak atau agama, masing-masing memiliki hukumnya.

IV. Ahlus Sunnah Mengakui dan Menerima Keutamaan dan Kedudukan Sahabat

Keutamaan adalah apa yang dengannya seseorang mengungguli orang lain dan ia dianggap sebagai kebanggaan baginya. Kedudukan adalah derajat, para sahabat memiliki derajat dan kedudukan tinggi. Keutamaan dan kedudukan yang ada bagi sahabat Nabi diterima oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Sebagai contoh Ahlus Sunnah menerima banyaknya shalat atau sedekah atau puasa atau haji atau jihad atau keutamaan-keutamaan lain dari mereka. Ahlus Sunnah menerima – contohnya – keutamaan Abu Bakar yang hadir kepada Nabi dengan seluruh hartanya pada saat Nabi mendorong sahabat bersedekah. Ini adalah keutamaan.

Ahlus Sunnah menerima keterangan yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah bahwa Abu Bakarlah seorang yang menemani Rasulullah dalam hijrah di gua. Mereka menerima sabda Nabi tentang Abu Bakar, “Sesungguhnya orang yang paling banyak jasanya terhadapku dalam harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Begitu pula keterangan-keterangan tentang keutamaan Umar, Usman dan Ali dan sahabat-sahabat yang lain. Semua itu diterima oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah. Begitu pula dengan derajat, Ahlus Sunnah wal Jamaah menerima keterangan tentang derajat mereka. Derajat tertinggi umat ini diraih oleh khulafa’ rasyidin, yang tertinggi dari mereka adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Usman kemudian Ali.

V. Antara Sahabat Sebelum dan Sesudah al-Fath

Ahlus Sunnah mengunggulkan sahabat yang berinfak dan berperang sebelum Fath, yakni perjanjian damai Hudaibiyah atas sahabat yang berinfak dan berperang sesudahnya.

Dalilnya adalah firman Allah, “Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allahlah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masingmasing mereka (balasan) yang lebih baik.” (Al-Hadid: 10).

Orang-orang yang berinfak dan berperang sebelum perdamaian Hudaibiyah lebih afdhal daripada orang-orang yang berinfak dan berperang setelahnya. Perdamaian Hudaibiyah terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun enam hijriyah. Orang-orang yang masuk Islam berinfak dan berperang sebelum itu adalah lebih baik daripada orang-orang yang berinfak dan berperang sesudahnya.

Dari Syarah al-Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin.